Pages

Selasa, 20 Oktober 2015

Penipuan Terhadap Warga Muslim Yang Diajak ke Gereja

Tragis. Seputar 29 orang warga Desa Sukamulya, Talegong, Kabupaten Garut yang awal mulanya di ajak piknik nyatanya jadi dibawa ke suatu Gereja di Garut Pangalengan Kabupaten Bandung (6/5). Pada awal mulanya, warga yang beragama Islam itu tidak paham menahu gagasan wisata yang bakal dituju. Yang pasti mereka terperanjat saat bis yang ditumpanginya berhenti di halaman gereja. Sekian kontributor Voa-Islam di Bandung melaporkan.

Semua warga juga turun dari bis, lantas dipandu pihak panitia untuk masuk ke gereja. Serta nyatanya, didalam gereja, telah berkumpul jemaat gereja yang tengah dengarkan khotbah, bernyanyi serta berdoa menurut ajaran mereka (Kristiani).

Sebagian saksi yang turut dalam rombongan wisata itu menjelaskan, warga tak segera dibaptis serta cuma ikuti kebaktian. Yang pasti, ada usaha yang berniat untuk memurtadakan warga Garut. Inilah Kristenisasi berkedok tur wisata. Waspadah!!

Kenyataan yang sukses dikumpulkan Voa-Islam, nyatanya biang keladi dari usaha pemurtadan itu dikerjakan oleh tiga orang yang bernama Opa dengan kata lain Danu, Caca serta Didin. Ketiga orang ini di ketahui telah murtad atau keluar dari Islam pada awal mulanya. Lalu, Opa, Caca serta Didin mengajak warga di daerah itu untuk turut aktivitas tour, serta semasing orang yang turut sudah dijanjikan duit pengganti biaya, seandainya mereka turut pada aktivitas itu.

" Rata-rata per orang bisa Rp. 35. 000. Terkecuali di beri duit transport, peserta di beri makan, tas sekolah serta susu untuk bayi. Saya memperoleh duit sebesar 1, 8 juta dari Pak Roni yang datang dari Jakarta, " jelas Danu waktu di tangkap oleh Laskar Islam untuk dibawa ke kantor Desa Sukamulya (16/5).

Laskar Islam yang disebut paduan dari ormas Islam di Bandung serta sekitarnya itu mencakup Gardah, Gempa, Gapas, Laskar Umat Islam, Front Ummat Islam, Laskar Sabilillah serta AK-12. Laskar membawa ketiga pelaku penipuan yang membohongi warga itu ke kantor desa, supaya kapok serta tak lakukan aktivitas pemurtadan di daerah itu.

Pada pertemuan yang berjalan seputar 4 jam di kantor Desa itu pada akhirnya ditetapkan. Danu, Caca serta Didin diusir untuk meninggalkan daerah Garut. Ketiga pemuda ini dapat didesak bikin surat pernyataan supaya tak akan lakukan aktivitas pemurtadan di manapun mereka ada. Apabila mereka masih tetap tidak mematuhi, jadi laskar bakal membawanya ke jalur hukum. " Saya siap mematuhi seluruhnya, " tegas Danu dihadapan laskar.

Konyolnya lagi, walau ketiga murtadin sudah beralih agama (Kristen), waktu di check KTP-nya nyatanya masih tetap tercatat beragama Islam. Walau sebenarnya yang berkaitan sudah murtad mulai sejak th. 2007. Menurut sumber Voa-Islam yang tidak ingin dijelaskan namanya, yang berkaitan nyatanya dalam sebagian minggu ke belakang, pernah bikin E-KTP. Saat di tanya petugas sejumlah tiga kali apa agama anda? Yang berkaitan menyebutkan, agamanya Islam, walau sebenarnya dia sudah beralih agama jadi Nasrani.


Salah seseorang perwakilan dari Gardah, Ustadz Suryana Nurfatwa, mereka seperti menabuh gendering perang dengan lakukan aktivitas pemurtadan berkedok tur wisata. Pihak Gereja yang ada dibalik peristiwa ini bakal dikejar untuk disuruhi pertanggungjawabannya.

Pendapat seirama disebutkan Ketua Gempa, Ustadz Ujang Mujadin. Ia menyatakan, peristiwa ini adalah bukti, misionaris selalu bekerja untuk lakukan Kristenisasi di Indonesia. " Kami akan tidak tinggal diam. Siapa yang lakukan pemurtadan bakal bertemu dengan kami, " tegasnya.

Semua ormas Islam di Bandung serta sekitarnya selalu mengawal masalah ini untuk selekasnya dituntaskan serta menyeret pelakunya ke jalur hukum. " Mesti ada aksi tegas supaya mereka tidak mengulangi tindakannya, " tegas Amas Al Uyan, ketua MUI Desa Sukamulaya pada Voa-Islam perwakilan Bandung.

0 komentar:

Posting Komentar